Kamis, 24 Maret 2011

Kanvas yang Terluka



Aku bersembunyi dalam sekawanan tebal kabut putih yang mempermainkan penglihatanku. Aku begitu takut melihatmu… Tak pernah sebelumnya aku merasa begini.
Ketika sayup-sayup kudengar bisikan itu, saat itulah air mataku mengkristal, udara di sekelilingku menggumpal, menyumbat paru-paruku dan membuatku serasa sulit bernapas. Kebekuan menopang kerisauanku. Sungguh aku rindu suara itu… Suasana itu.
Instrument klasik mengalun pelan dan nyata, merobek-robek kanvas penuh bercak abstrak di hadapanku.
Teringat lagi.
Aku suka hal-hal kecil yang sering tiba-tiba kau lakukan terhadapku.
Aku suka caramu menatapku.
Aku suka caramu mengacak-acak rambutku, mengelus kepalaku dan tersenyum kepadaku.
Aku suka caramu bercanda dan menggodaku.
Aku rindu melihatmu menungguku di ambang pintu.
Aku rindu menghabiskan sisa malamku bersamamu ditemani gerimis, dibawah lengkung cahaya sabit dan di tengah lampu-lampu kota yang eksotis…
Aku rindu melihatmu mengenakan celana hitam panjang dengan kemeja hitam lengan panjang – yang seringkali kau lipat lengannya sampai siku disaat kau mengenakannya – sambil menatapku lekat-lekat.
Aku rindu ketika kita duduk berdua pada anak tangga yang mengarah ke jalan raya yang penuh kendaraan berlalu lalang, kemudian hujan merinai dan kau melepas jaketmu, memakaikannya untukku…
Aku rindu ketika aku berteduh dibawah pohon sakura , dan kau menggoyang batang pohon itu hingga tetes-tetes air menghujaniku. Dan kau tertawa…
Sungguh. Aku senang melihatmu tertawa, meski itu menyebalkan karena kau harus tertawa karena aku berubah menjadi konyol dan basah kuyup.
Ah!
Betapa ingin aku mengumpulkan sisa-sisa puzzle memory kita yang nyaris berantakan, bahkan beberapa potongan telah hilang tak bernyawa. Aku ingin meniup kembali api itu, hingga aku tak perlu lagi meringkuk beku dibawah selimut berkabut.
Sungguh aku tidak pernah ingin menjadi seorang yang munafik! Namun, sekali lagi…
Well. Aku merasa takut melihatmu, hingga aku meringkuk di sudut ketebalan kabut dan memegangi lututku, memegangi tubuhku sendiri agar tidak hancur. Aku menyipitkan kedua mataku dan mencoba memejamkannya… Sejenak.
Tapi bayangmu tetap nyata…


Oleh: Fee Al-Lail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar