Sabtu, 10 September 2011

Catatan dalam Sepotong Roti

Aku berjalan sendirian.  Kuseret-seret kaki kananku sehingga jalanku terseok-seok. Di bawah sebatang pohon, aku berhenti. Duduk di bangku kayu seorang diri. Kupandangi sandalku yang lepas talinya. Sial! Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Kulirik tas kecil di pangkuanku. Talinya lepas juga. Hash...! Sementara itu, uang di dompetku lenyap. Sepertinya tertinggal di rumah, karena aku juga lupa membawa tissue yang kuletakkan di atas uangku tadi di meja kecil kamarku.

Dalam keadaan bingung, aku menghubungi teman-temanku. Erlyta; message delivered, tapi tak ada balasan. Mentari; sedang ada acara di UKM. Enggal; message pending. Faisal; message failed! Kakakku; sedang ujian skripsi di kampus.
Akhirnya, aku minta tolong dia (dengan sangat malu-malu). Oh, rupanya dia sedang ada acara juga.
Aku diam saja seperti orang hilang. Aku diam saja... Aku memang bertekad akan tetap menunggunya, meski aku tak yakin dia akan datang untukku. Ya. Dan aku diam saja...
Beberapa saat kemudian, seolah ada yang mendorong kepalaku untuk menoleh ke kiri. Dan aku melihatnya...
Iya. Edward-ku.
Dia mengenakan pakaian hitam dan terlihat kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Dia mendekat menuju arahku. Langkahnya pasti. Dan aku hanya bisa diam...
Aku menunduk saja, sampai dia duduk di sebelahku.
Aku menceritakan pengalamanku hari ini. Dan dia tertawa...
Sungguh. Aku suka caranya tertawa. Aku senang melihatnya tertawa seperti itu. Dan sama seperti saat pertama kali aku duduk bersebelahan dengannya hampir setahun yang lalu... Aku bahagia berada bersamanya seperti ini.
Kami bercerita. Kami bercanda. Kami tertawa.
Kemudian dikeluarkannya sepotong besar roti selai, sekotak teh dan sebotol air minum. Dibukanya plastik yang membungkus roti itu, dan sungguh, aku merasa jantungku berhenti berdetak ketika dia menyuapkan roti itu ke mulutku. Beberapa orang di dalam angkot AL tertawa menyaksikan kami berdua. Kemudian kami berfoto. Berkali-kali, sampai-sampai orang-orang yang melihat kami tersenyum dan tertawa. Kami tidak peduli. Aku merasa hanya dia dan aku yang ada... (sungguh lebay)
Dan kemudian kami diam cukup lama. Kuserahkan teh kotak yang ada dalam genggamanku padanya. Aku bermaksud menyuruhnya untuk meminumnya. Tapi dia justru menancapkan sedotan ke dalam lubang dalam kotak teh itu, dan menyuruhku untuk minum (aku speechless).
Selanjutnya, kami saling mem-bluetooth foto-foto kami. Ketika dia akan mengirim foto-fotonya padaku, dia bertanya apa nama blututku. Kujawab saja, “Fee.” Dia bilang tidak ada. Kemudian dicoba lagi. Tetap tidak ditemukan. Setelah bingung dan beberapa kali mencoba, aku baru sadar bahwa blutut hapeku belum ku aktifkan. (hahaha memalukan) :D
Singkat cerita... Sudah saatnya aku pulang. Saat aku berdiri, dia dengan sengaja menginjak kakiku yang tanpa sandal maupun sepatu. Kemudian dia tertawa dan berlari. Aku ikut tertawa.

(: untuk seniman yang disana :)

1 komentar:

  1. Wa'alaikumsalam...
    Terimakasih sudah follow, saya juga sudah follow back.
    Salam kenal juga ya ^^

    BalasHapus