Aku suka caranya tersenyum.
Tulus. Dan apa adanya. Dia selalu tersenyum ketika aku mengucapkan “aku kangen...” atau “aku sayang kamu...” padanya.
Dia juga selalu tersenyum ketika menyaksikan aku sedang bermain gitar sambil menyanyi. Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa aku tahu dia selalu tersenyum ketika melihatku bermain basket.
Aku suka caranya tertawa.
Dia sering tertawa ketika aku menggodanya dengan bertingkah konyol dan gila. Tawanya lepas dan... Ah! Aku tidak tahu. Yang pasti, aku selalu suka caranya tertawa.
Aku suka tingkahnya ketika cemburu.
Lucu. Bukan berarti aku senang membuatnya cemburu. Hanya saja, dia memang seperti itu. Pencemburu. Tapi aku mencintainya...
Saat sedang cemburu, dia hanya diam. Bibir atasnya maju satu senti. Itu membuatnya tampak konyol sekali. Tapi aku suka. Haha.
Ketika sedang cemburu, dia tidak mau bicara denganku.
Ketika sedang cemburu, bahkan dia tidak tertawa meskipun aku melakukan hal-hal yang seharusnya dia tertawa karenanya.
Kalau dia tidak bisa tertawa juga, atau masih sangat marah padaku, aku harus menenangkannya. Aku harus mendekatinya. Duduk manis di sebelahnya, seperti anak TK yang mau pulang setelah berdoa bersama.
Ketika dia sedang cemburu, aku mengamatinya. Mengamati tingkahnya. Mengamati ekspresi wajahnya. Kadang aku ingin tersenyum, tapi aku tahan, takut dia bertambah marah. Disaat seperti itu biasanya aku memalingkan wajah, menoleh ke arah tembok kelas yang penuh tempelan. Ada lukisan, kumpulan Wortschatz bahasa Jerman, jam dinding.
Setelah tawaku mereda, aku kembali mengamatinya. Dia suka memainkan ujung jilbabnya ketika sedang cemburu. Sambil masih diam membisu. Aku terus mengamatinya. Mungkin dia merasa salah tingkah atau bagaimana, karena kemudian dia mulai melakukan aktivitas lain. Dan tentu saja, tanpa menoleh padaku. Aku, yang duduk di bangku tepat di sebelahnya. Aku, yang dari tadi menemaninya. Aku, pacarnya. Ckck. Benar-benar harus bersabar ketika kekasihku sedang cemburu.
Berkali-kali aku sudah meminta maaf, dan dia hanya diam sambil menundukkan kepala. Dasar cewek. Sok melankolis. Haha. Dia pura-pura tidak mendengar. Entah pura-pura atau memang dia tidak mendengar suaraku karena mungkin suaraku lah yang terlalu pelan.
Iya. Terlalu pelan. Sampai-sampai salah satu temannya berceloteh, “Hey! Jangan ribut sendiri. Aku sedang mengerjakan PR nih! Kalau mau ramai, di kelasmu sendiri saja sana!” aku hanya tertawa. Salah sendiri. Bukankah PR itu pekerjaan rumah ya?
Ah! Sudahlah. Tidak penting. Yang terpenting adalah pacarku sedang cemburu dan aku harus bisa menenangkan dan menghiburnya.
Aku mengamatinya. Kali ini dia mengeluarkan pensil dan selembar kertas. Mencoret-coret kertas itu. Membuat garis lurus, kemudian lengkung. Kemudian mengarsir setiap pojok kertas, dengan emosi. Aku semakin geli melihatnya. Dan dia mendengarku tertawa. Aku langsung memalingkan muka ketika dia melirik ke arahku.
Beberapa saat kemudian, aku pindah tempat. Aku duduk di bangku di depannya. Kali ini aku tepat berada di depannya. Kami sudah berhadap-hadapan.
“Sayang...” panggilku pelan dan mesra.
Dia hanya mendengus, kemudian menatap langit-langit. Tak sedikitpun melihat aku. Padahal aku sudah berdandan sedemikian rupa. Aku memakai kacamata. Dan membiarkan poniku yang lurus sedikit acak-acakan. Aku tahu, dia paling suka melihat poniku yang seperti ini.
Dia suka sekali menjambaki poniku. Ketika kami sedang bercanda, dia suka sekali tiba-tiba menarik-narik poniku, mencubit lenganku, menggelitik leherku, mencubit hidungku... Dia juga suka tiba-tiba mengelus-elus pipiku, kemudian ketika aku sudah mulai tersenyum senang, dia tiba-tiba menampar pipiku dengan keras, sambil tertawa. Kalau sudah seperti itu, dia akan lari. Tapi tentu saja lariku lebih cepat. Ketika aku sudah mendapatkannya, kugigit tangannya sampai biru dan bekas gigiku ada disana. Haha. Dia sampai menangis karena kesakitan. Aku hanya tertawa, kemudian memeluknya. Lucu sekali. Dia menangis di pelukanku. Bajuku basah terkena air matanya. Aku tersenyum saja sambil mengelus-elus kepalanya.
“Sayang, maaf...” ulangku sambil menatap matanya yang kini melihatku. Aku tersenyum. “Apa yang membuatmu cemburu? Bukankah aku sudah sering bilang, aku hanya mencintaimu. Aku dan teman-teman memang seperti itu. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Aku benar-benar cinta kamu...”
Aku mengulang kalimat itu berkali-kali, dan mungkin dia risih mendengarku mengoceh. Kemudian bangkit dari kursinya, lalu tersenyum padaku, mengelus pipiku, menatap mataku lama, tapi aku tahu apa yang akan dilakukannya. Dan benar saja, ketika dia mulai mengayunkan tangannya, aku menangkisnya sambil tersenyum. Dia langsung berlari keluar kelas dengan geram. Haha.
Tapi bagaimanapun juga, aku sangat mencintainya.
Terserah kalian percaya atau tidak. Dia adalah gadis yang paling aku cintai dalam sejarah aku pacaran. Belum pernah aku mencintai seseorang sampai seperti ini. Sungguh, aku akan lakukan apapun untuknya. Apapun, meski harus kutukar dengan nyawaku sekalipun.
Oleh: Mohammed El-Charist
U have a sense of romantic writer, keep writing :DD
BalasHapusGanbaro~
Reno : iyaa.. kebanyakan kumpulan diary ku semasa SMA sampai sekarang. hehe iya ntar aku main2 ke blog nya Reno :)
BalasHapusRirisuchan : thanks :)
Kak Reno : sama2 kak.. :) sering-seringlah mampir blog ku ya kak.. :)
BalasHapus