Jumat, 03 Juni 2011

Rumput dan Tebing

(Sabtu, 9 April 2011, 20:13)

Dua gadis.
Tebing curam.
Terjal.

Gadis 1; mata merah, rambut tergerai acak-acakan, kaki telanjang, menangis, isaknya menggema di hutan puncak gunung itu.

Gadis 2; duduk bertopang dagu diatas sebuah batu besar, menyesali keadaan gadis 1.

Ternyata gerimis. Lagi.
Derit pinus bersahutan. Mata air merincik angkuh. Batu-batu kali saling berorasi tentang rahasia hujan. Alam merekam percakapan mereka.
Di sela-sela itu...

Gadis 1 : "Menurutmu, apakah tebing curam ini?"
Gadis 2 : "Kesabaran." 
Gadis 1 : (tertawa pesimis) "Hidup tak memerlukan kesabaran! Menurutku, tebing curam ini ada untuk aku melompatinya."
Gadis 2 : (tersenyum kecut) "Paralayang?" 
Gadis 1 : "Terjun payung."
Gadis 2 : "Lalu?" (mencabut setangkai bunga rumput, meniupinya, meremas-remasnya, membuangnya ke tanah yang sedikit basah.)
Gadis 1 : "Bebatuan runcing dibawah sana yang akan menangkapku."
Gadis 2 : (menahan tawa, berpaling, mendongakkan kepalanya kepada kepakan elang yang paruhnya membawa bangkai anak ayam.)
Gadis 1 : "Kau tahu makna sungai itu?"
Gadis 2 : "Kesetiaan."
Gadis 1 : "Hahaha... Bahkan aku tak pernah merasakannya. Kau tahu? Sungai itu adalah simbol kematian."
Gadis 2 : "Terjun, tenggelam, tak muncul lagi ke permukaan. Aku sudah tahu maksudmu." (bangkit, berbaring di rumput ilalang, mencabut sehelai, menggigitinya.)
Gadis 1 : "Aku ingin mati."
Gadis 2 : "Kau tahu arti rumput ini?" 
Gadis 1 : "Jejalkan saja pada mulutmu!"
Gadis 2 : (tersenyum miring; senyum jahat!) "Orang sabar ibarat rumput yang tak pernah mengeluh ketika kaki-kaki kotor manusia tak bertanggungjawab menginjak-injaknya. Tak pernah protes ketika matahari menyengatnya. Tak pernah dia mencoba kabur, melepaskan dirinya dari dalam tanah harum ini, untuk mengakhiri hidupnya. Lepas dari semua itu..."
Gadis 1 : "Bullshit!"
Gadis 2 : "Rumput mati dan mengering di tempatnya."
Gadis 1 : "Dasar rumput bodoh! Tak pernah mau berusaha!"
Gadis 2 : "Tahukah kamu, saat ini apa yang tengah dibicarakan rumput dengan kawanannya? Diam dan dengarkan! Mereka tengah menertawakan seseorang yang ingin menyalahi takdir. Menurut mereka, orang itulah yang bodoh! Ya. Bodoh sekali. Terlebih lagi, dia mengira rumput itu yang bodoh!"
Gadis 1 : "Ah! Sudahlah! Tak usah banyak bicara!"
Gadis 2 : "Kau tahu..."
Gadis 1 : "Tutup mulut serigalamu itu!"
Gadis 2 : "... apa yang sedang dibicarakan langit dan bumi sekarang?"
Gadis 1 : "Haasshh persetan dengan langitmu itu! Urus saja sendiri!"
Gadis 2 : "Mereka..."
Gadis 1 : "Kau dengar deru angin itu? Rincik hujan itu? Apa yang mereka bicarakan? Apa yang mereka bisikkan? Kau tahu??"
Gadis 2 : (baru akan membuka mulut untuk bicara...)
Gadis 1 : "Mereka mencibir padaku yang hanya berdiri dan diam saja! Sementara di bawah sana, bebatuan itu tak sabar menyambutku..."
Gadis 2 : "Dasar gila!"
Gadis 1 : "Kau benar. Dan tak ada gunanya lagi aku hidup, bukan?!"
Gadis 2 : "Kau sudah gelap!"
Gadis 1 : "Akan kuakhiri penderitaanku. Segera."
Gadis 2 : "Kau akan menyesal!"
Gadis 1 : "Aku akan terbang. Dan akan menghempaskan tubuhku diatas runcingnya batu-batu itu. Tak sabar aku ingin tahu rasanya..." (berbinar, berdiri di ujung tebing.)
Gadis 2 : "Orang gila!"

Satu menit kemudian.
Hening, setelah suara 'prakkk!!!'.
Alam seperti hendak berhenti bernapas.
Koak gagak memecah deru hujan.
Gadis 2 terbelalak.



Oleh: Fee Al-Lail 
Ketika hampir menyaksikan temanku bunuh diri...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar