Rabu, 01 Juni 2011

Cintaku di Schwarzwald (Part 2)


 
Heidi
Aku membuka mata, terjingkat kecil. Kereta penuh sesak. Tersadar, kuamati sekeliling. Depan. Pintu. Ah! Tak ada.
Apa yang tadi kulihat...
Benarkah...
Tapi...

Alisha
Aku berhenti di ujung gang yang sempit. Aroma ini... Tidak. Dan kuputuskan untuk berbelok ke arah barat.

Heidi
Kereta berhenti. Entah sudah berapa lama aku tertidur tadi. Aku turun. Salju masih berjatuhan.
Aku berdiri di sisi rel. Biji-biji udara yang berhembus di sekelilingku, meresap, mencuri anganku. Baguslah. Aku harus memulai dengan yang baru. Hari yang baru. Musim yang baru. Lagi.

Alisha
Hah! Rasa apa ini? Aku merasa ingin bertemu dengannya. Hatiku serasa tercabik-cabik pedang Hipocrates. Kuremas dedaunan Linden yang beku.

Heidi
Kubuang mantel dan sepatu boots ku. Kupijakkan kakiku yang telanjang diatas hamparan es yang licin. Tak peduli. Aku terus berjalan, tanpa arah. Berlari, bahkan.

Alisha
Kubuang mantel dan sepatu boots ku. Kupijakkan kakiku yang telanjang diatas hamparan es yang licin. Tak peduli. Aku terus berjalan, tanpa arah. Berlari, bahkan.

Heidi
Aku kesakitan.
Beku.
Pingsan.

Alisha
Aku rasa aku telah jatuh... Cinta.

Heidi
Samar-samar kulihat wajah itu. Matanya jernih, bulat dan biru. Bulu mata yang lentik, alis yang tebal... Wajahnya putih, bersih, tak ada setitik noda pun. Tersenyum dia. Manis. Ah! Akhirnya kudapatkan apa yang kuinginkan!
Tidak, tunggu. Mata yang menatapku itu berwarna abu-abu.
Bukan, dia bukan gadis itu.

Alisha
Aku tidak bisa tenang. Arghh! Aku ingin pergi ke Altstadt, tak peduli siapapun yang aku temui di jalan nanti! Aku tidak tahan. Haus!

Heidi
Namanya Liebscher. Suka menyendiri. Cantik.
Kuamati dia yang sedang memegang palet warna dan menghadap kanvas. Lukisannya... Sempurna.
Dia menatapku, tersenyum. Aku merasakan bongkahan es meleleh di hatiku, sejuk.
Musim dingin akan segera berakhir. Beberapa hari lagi, bunga-bunga lavender dan tulip akan segera bersemi. Pucuk-pucuk cemara akan tumbuh.

Alisha
Sudah berbulan-bulan sejak kejadian di Schwarzwald, saat dimana dia melihatku untuk terakhir kalinya. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak lari waktu itu... Seharusnya aku justru menghampirinya... Seharusnya aku tidak pernah haus akannya... Seharusnya aku bukan seorang... VAMPIR.
Ya. Seharusnya aku mengejarnya ke utara. Seharusnya aku menjemputnya di stasiun kereta terakhir. Seharusnya aku membawanya pergi. Seharusnya aku bisa memilikinya!
Sekali lagi. Kupandangi tubuh yang tergeletak pasrah di hadapanku. Seorang mahasiswa cerdas yang menjadi idola di kampusnya, besok akan dikabarkan meninggal dunia dalam keadaan kepalanya terputus dari badannya.
Tentu saja aku menyesal melakukannya. Tetapi aku haus.

Heidi
Aku sangat mencintai Liebscher. Musim panas nanti kami akan menikah.

Alisha
Aku menjadi gila!
Aku berharap musim panas tak akan datang. Aku berharap tak ada lagi Sommer. Aku berharap akan tetap Winter saja, atau Herbst saja, atau Frȕhling saja, tanpa musim panas keparat itu! Hah!

Heidi
Liebscher terlihat anggun dan cantik sekali dengan gaun putihnya yang berenda. Sempurna.

Alisha
Malam keduabelas, musim panas. 23:58.
Aku sudah berdiri di sisi almari, menelangkupkan kedua tanganku ke dada.
Rambutku tak dikepang lagi. Tergerai.
Mataku tak biru lagi. Merah berkilat-kilat.
Bibirku tak cantik lagi. Taring menyeruak keluar.
Pintu itu terkuak. Manusia itu terbelalak melihatku. Segera. Kuhampiri dia. Kucengkeram lehernya. Kubungkam mulutnya. Kuhisap darahnya.
Beberapa menit kemudian.
Kulempar mayatnya keluar jendela. Jatuh dari lantai tiga puluh satu.

Heidi
Aku kehilangan Liebscher. Aku kehilangan hidupku. Aku kehilangan cintaku. Ah! Lebih baik mati saja!!!

Alisha
Aku sangat mencintainya. Aku ingin memilikinya. Tapi aku takut menyakitinya... Aku tidak ingin membunuhnya. Aku hanya ingin cintanya, itu saja.

Heidi
Kutemukan sebuah kotak suara di kamar hotel itu.
Seperti aku pernah melihat sebelumnya...
Aku tersenyum miring.
Aku rasa aku tahu siapa pembunuh Liebscher.

Alisha
Kuputuskan menghampiri Heidi malam ini. Aku sudah terlalu rindu... Ah! Ingin sekali aku mengungkapkan kegelisahanku selama ini. Aku ingin dia tahu bahwa aku menginginkannya.
Berlari, melesat aku menuju tempat tinggalnya. Sampai di jendela kamarnya, kutiup tirai itu. Terbuka. Kulihat dirinya tertidur dengan sangat pulas. Sesungging senyum terlukis di bibirnya yang putih. Pucat! Wajahnya pucat!
Aku semakin mendekat. Aneh. Aku tak mencium aroma apapun, seperti waktu itu.
Kuguncang tubuhnya. Tak ada reaksi.
Heidi telah mati.
Aku pun hancur. Lebur.
Sangat lebur.


Cerpen oleh: Fee Al-Lail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar