Dan aku mulai menaiki gerbong tiga.
Ah! Kaukah itu? Berdiri di ambang pintu kereta yang setengah terbuka.
Kaukah itu? Yang tersenyum dan menyapaku dengan sekerat mawar putih.
Bulan tersesat; mengikuti arus geladak besi.
Jenuh menyerap suara guruh.
Seharusnya kubungkam saja mulut mereka!
Airmata malaikat yang menderai gerbong berjalan ini; menyatu dan basah kuyup.
Hash..
Aku menggigil lagi.
Dan kesepian lagi.
Dan sendiri lagi.
Dan tanpamu lagi...
Puisi oleh: Fee Al-Lail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar