Jumat, 03 Juni 2011

Kereta Terakhir (Part 3)


"Kereta Terakhir yang Akan Membawamu Kembali Padaku"
Monday, February 21, 2011 at 4:12pm

Minggu, 20 Pebruari 2011
05.01
Titik embun masih melekat pada daun lavender didepan kamarku, ketika kau datang dan mengetuk-ngetuk kaca jendela; mengendap-endap.


05.30
“Sarapan yuk?”
Pagi itu kita makan bubur ayam dengan lahap. Dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng ikut menemani. Kau menyuapiku… Sungguh hal kecil yang takkan pernah tercabut dari reruntuhan anganku.

Ketika matahari sudah mulai berkilau,
sambil bergandengan tangan, kau membawaku ke taman kota. Teratai ungu mengapung di permukaan kolam yang hijau. Air mancur di tengahnya. Tempat duduk yang mengelilingi lingkaran kolam, dengan bunga-bunga sakura dan pepohonan akasia.


"Jadwal keretanya jam berapa, Sayang?"
"Setengah delapan."
Aku melihat pergelangan tanganku.
Hah?!

07.26
Diperlukan sepuluh menit lagi untuk tiba di stasiun. Kau dan aku berlari, berlari dan berlari mengejar waktu.

07. 31
Tidak sampai sepuluh menit, kita sudah tiba di stasiun.
Aku mencium tanganmu. Kau memelukku sejenak, sebelum berpesan padaku.
  
“Baik-baik ya disini?”
“Jaga kesehatan ya?”
“Jangan sampai telat makan, awas!”
“Olahraga donk, biar perutmu langsing, nggak seperti ini..” (kau tersenyum simpul sambil mencubit perutku; aku cemberut.,)
“Jangan lupa sholat tepat waktu dan mengaji. Yang rajin ya!”
“Jaga sikap sama cowok-cowok…”

“Iyaaa…… Cepat! Bisa ketinggalan kereta nanti.!!”

Kau tersenyum; memelukku sekali lagi. Aku tak tahan lagi… Aku menangis dalam pelukanmu.

“Sshhh… Sudah. Jangan sedih ya? Tunggu aku.” kau menenangkanku; mengelus-elus kepalaku seperti seorang ayah yang mendiamkan anaknya yang menangis meminta permen lollipop.

Semua penumpang sudah naik kedalam kereta.
“Cepat, Sayang!” Aku mendorong tubuhmu. Kau berlari, namun kembali lagi.
“Apa???” aku naik pitam.

“Ada yang ketinggalan!”

Aku mengerutkan kening. Memandanginya dari ujung kaki hingga atas kepala. Ransel hinggap di punggungnya. Lengkap.
“Apa? Ketinggalan?”

Kau mendekat dan berbisik…
“I love you so much, Baby…”

“I love you too…:"

Suaraku pelan; nyaris tak terdengar. Bahkan aku yakin kau tak mendengarnya, iya kan? Tapi kau pasti membaca gerak bibirku.

“Cepat..!!” aku panik karena kereta mulai bergerak. Sekali lagi aku mendorongmu.
Kau berlari, sambil berteriak kencang.

“Tunggu aku, Sayang…! I love you…”

Aku berdiam berpijak bertahan di sisi rel yang berkarat. Menatap nanar kearah keretamu yang sudah tak tampak. Pandanganku kabur; berderai air mata yang tak bisa kutahan-tahan lagi.


Oleh: Fee Al-Lail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar