Rabu, 01 Juni 2011

Sebuah Perjalanan


'Brunch' hari ini:
Matahari menebarkan pesona dengan sombongnya, membakar surface bumi yang sudah tua dan pikun.
Aspal mulus yang berdebu.
Asap kendaraan yang hitam.
Selokan-selokan pinggir jalan yang keruh airnya.
Sebuah bus kota yang penuh sesak, dan disitulah saat ini aku berada. Duduk di samping laki-laki tua, kira-kira berumur delapan puluhan.

Pengamen jalanan yang menyanyi dengan suara yang sumbang, sambil memainkan gitar usangnya dengan nada-nada tak jelas. Kadang slow, kemudian seketika nge-rock abis. Hahh!! Bising telingaku.
Pun mataku, enggan menatapnya. Piercing nya memenuhi hidung, lidah, bibir dan telinganya. Rambutnya berwarna kuning mencolok dengan sedikit percikan biru tua. Padahal kemarin aku sempat melihatnya... Ya. Tak salah lagi,. Dia yang kulihat kemarin, rambutnya masih merah. Ckckck.

Kemudian, loper koran. Aku heran. Setiap aku naik bus, entah itu akan berangkat atau ketika pulang kuliah, selalu pemuda ini yang menjajakan korannya. Aku sampai hafal, dan tentu saja, muak. Gayanya terlalu bertele-tele. Topi hitamnya tak pernah absen dari menempel di kepalanya.

Pemuda penjual koran ini mulai mengedarkan koran-korannya kepada para penumpang sambil berteriak-teriak 'alay', berlagak seperti sang orator handal yang tengah berorasi di depan bangku-bangku kosong. Para penumpang, seperti halnya aku, seketika bermuka masam. Tingkahnya macam-macam: ada yang kipas-kipas, melamun sambil melihat keluar jendela, cuek pura-pura tidak menyadari eksistensi pemuda itu, mainin henpon, ndengerin MP3 sambil mengangguk-angguk dan merem-melek mengikuti irama, pura-pura tertidur dan mendengkur asal-asalan di kursinya, bahkan ada juga yang memonyongkan bibirnya sambil melotot kepada mas loper koran tadi.

Kulihat disampingku. Pak tua tadi tampak menggerutu, entah apa yang dibicarakannya dengan dirinya sendiri.

Di bangku pojok belakang, seorang gadis tampak sedang telpon-telponan, mungkin dengan pacarnya. Naik pitam dia. Wajah bulatnya sudah seperti kepiting rebus saja. Kuamati gesture bibirnya. Beberapa kali kutahu dia mengumpat sebal sambil sesekali melirik pemuda penjaja koran tadi.

Sementara udara dan suasana semakin memanas, bus ini tak bergerak juga. Para penumpang mulai gelisah. Aku mengeluarkan permen mint dari sakuku, memasang earphone dan memejamkan mata...
Beberapa saat kemudian, aku merasakan bus ini mulai bergerak. Alhamdulillah... Aku bersyukur dalam hati.

Seorang bapak tua yang duduk di sebelahku tertidur dengan memegang tiga lembar uang seribuan. Kuamati dia; kemeja kuning kusam yang sudah berlubang di salah satu lengannya, celana hitam, sandal jepit. Sudah. Dia tak membawa apapun lagi. Tidurnya terlihat nyenyak, beberapa kali mengigau. Menyebut-nyebut nama kucingnya, "Kucingku Bindi.. Kucingku Bindi..."
Sesekali dia terjingkat kecil di sela tidurnya...

Tiba-tiba bus berhenti mendadak. Kepalaku membentur jendela, sakit! Dan bapak tua tadi seketika terbangun dan memegang dadanya, panik, "Astaghfirullah... Ya Allah.. Ya rohman ya rohiiim... Ya maliik.... Ya qudus...." dengan lafadz yang tak jelas.

Bus masih berhenti. Tiba-tiba suasana menjadi ramai. Banyak penumpang yang berebut turun, ingin tahu apa yang terjadi. Bapak tua di sebelahku tadi gemetar, peluh mengaliri wajah dan kemejanya basah. Tiba-tiba terdengar jeritan melengking dari salah satu penumpang. Oh, ternyata ada kecelakaan. Bus ini telah menabrak seorang tukang becak yang tadi hendak menyeberang. Aku keluar, menyaksikan pemandangan di depan sana. Ingin muntah rasanya! Darah berceceran dan muncrat dimana-mana. Aku tidak pernah sanggup melihat suasana semacam itu... Hanya membuatku mual dan pening saja.

Samar-samar kudengar suara orang-orang berteriak-teriak.
"Lihatlah, kepalanya pecah!"
"Kakinya hancur,.!!"
"Panggil ambulance, bawa ke rumah sakit!!"
"Dia sudah mati!"

Aku pejamkan mata, gemetar. Duduk kembali di bangkuku tadi. Bapak tua yang tadi duduk di sebelahku kini sudah menghilang. Mungkin ikut keluar menyaksikan peristiwa itu. Hanya beberapa saja yang masih bertahan didalam bus yang pengap ini.

Bus tidak melaju lagi. Semua penumpang harus turun. Dengan langkah gontai, aku turun tanpa menoleh sedikitpun ke kerumunan orang yang semuanya panik. Aku berjalan menjauh, menunggu bus berikutnya di tepi jalan raya yang berdebu.

Tetap saja matahari dengan angkuhnya menyoroti bumi, seakan merekam peristiwa kecelakaan itu.

Aku memicingkan mata. Kira-kira lima sepuluh meter didepanku, sesosok orang tua berkemeja kuning, celana hitam dan memakai sandal jepit, tampak terbengong-bengong, berjalan limbung, sorot kebingungan terpancar di wajahnya yang berkeringat. "Uangku.. Uangku..." teriaknya parau. Baru saja mobil ambulance yang membawa si korban kecelakaan tadi melaju dengan kencang, hingga menerbangkan tiga lembar uang seribuan pak tua itu. Dengan panik dia mengejar uang kertasnya yang terbawa angin, hampir masuk ke selokan hitam di seberang jalan.

Tiiiinnnn tiiinnn.... Tiiin tiiiiiiiiiiinnn......
Aku lemas. Handtasche ku seketika terlepas dari genggamanku. Sempat kudengar teriakan memilukan orang tua itu, bersamaan dengan terpelantingnya tubuh kurusnya dan membentur aspal yang keras. Orang-orang berebut mengerumuninya.,

Aku pucat.


Cerpen oleh: Fee Al-Lail
Suatu siang ketika pulang dari kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar