Heidi
Schwarzwald, 05.12.
Winter hari kelima.
Kulihat lagi dia. Kali ini mengenakan jubah coklat dengan motif bulu-bulu putih. Berbaring diatas gumpalan salju yang dingin. Aku mengamatinya dari balik sebuah pohon berkulit abu-abu. Ini bukan pertama kali aku melihatnya. Musim dingin tahun lalu, aku menemukan hal yang sama. Hanya saja waktu itu dia berjubah putih. Hal yang dilakukannya pun tak berubah. Berbaring diatas serpihan salju.
Kemarin juga seperti itu. Dan itu menjadi salah satu alasan mengapa aku berada disini saat ini. Sehari saja tidak melihatnya, rasanya ada yang tidak beres dengan sel-sel di tubuhku. Hatiku meraung-raung kesepian. Hariku semakin muram dan dikemas dingin.
Aku tak tahu kenapa. Ada sensasi tersendiri saat melihatnya sedang bergumul dengan es seperti itu. Wajahnya yang putih pucat semakin mempesona ketika dia tersenyum dan sesekali berbicara dengan dirinya sendiri. Entah apa yang diucapkannya.
Aku maju beberapa langkah, mendekatinya, dengan tetap sembunyi-sembunyi.
Alisha
Krakk! Kudengar bunyi ranting patah. Hash! Siapa disana?? Kurang ajar betul. Rupanya ada orang lain disini. Aku segera tertegak, duduk dan waspada. Aku tahu ada orang di belakangku.
Heidi
Sial! Dia melihatku!
Alisha
Kupungut kotak suaraku yang kupendam didalam cerukan es. Lari.
Heidi
Winter hari keenam. 05.00.
Schwarzwald masih kosong. Ya. Aku menyebutnya kosong karena tak ada dia. Mungkin aku harus bersabar. Ini masih jam lima pagi. Ya. Mungkin sebentar lagi.
05.39.
Aku berdiri di tempat yang sama seperti kemarin, mengawasi pemandangan didepanku. Masih kosong. Dia belum datang.
06.48.
Sudah hampir jam tujuh pagi. Aku ingat betul kapan dia seharusnya datang. Musim dingin tahun lalu, dia selalu sudah ada disini dari jam lima pagi. Dan baru kembali menghilang ketika senja berlalu membawa kepingan salju yang ditiup angin.
Winter kali ini, lima kali sudah aku melihatnya. Dan hari keenam ini… Ah! Seharusnya aku juga bisa…
08.20.
Tak ada tanda-tanda. Schwarzwald masih dipenuhi aroma es yang merebak di tiap dedaunannya yang beku. Tanpa dia.
11.00.
Wajarkah jika aku mulai gelisah?
Alisha
Seharusnya aku pergi kesana…
Tapi aku takut tak kuat. Bukan tak kuat menahan angin musim dingin atau badai salju yang dikabarkan sebentar lagi akan melanda Schwarzwald, tapi aku takut… Aku takut aku tidak kuat. Ah! Apa istilah yang harus aku gunakan dalam berbicara hal ini? Baiklah. Sebenarnya, aku takut melihatnya. Aku takkan sanggup…
Heidi
20.19, Schwarzwald.
Siapa? Kemana? Dimana? Dan… Mengapa?
Alisha
Sel-sel di tubuhku mulai meraung. Hah!
Heidi
23.59, Schwarzwald.
Apa mugkin dia berlari ke Feldberg? Bersembunyi? Atau pergi ke Schluchsee? Tapi mengapa?!
Aku benar-benar ingin tahu. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalaku.
Winter hari ke enambelas.
Pukul lima pagi, masih di tempat yang sama.
Kemana dia?
Winter hari ke enampuluhsatu.
Dia tak datang lagi. Dan tak akan pernah datang lagi. Mungkin karena dia tahu aku selalu mengawasinya. Ah! Aku menyesal.
Winter hari ke tujuhpuluhdua.
Di tengah Schwarzwald yang putih.
Aku diburu rasa ingin tahu. Siapa dia. Darimana. Ada apa. Dimana. Hah!
Tapi tak ada tanda-tanda dia akan datang lagi.
Keesokan harinya…
Aku merasa gila.
Tak pernah aku sepenasaran ini. Sungguh, aku merindukannya…
Aku rindu wajah pucatnya. Rindu bibir merahnya. Rindu mata birunya. Rindu rambut pirangnya yang selalu dikepang dua. Rindu ketika jemarinya yang lentik itu meremas-remas salju membentuk bulatan-bulatan kecil. Rindu melihatnya berbaring diatas hamparan es yang dingin. Arghh!
Aku sakit rindu.
Atau aku harus pergi saja? Melupakannya?
Hari ini kuputuskan untuk meninggalkan Baden-Württemberg. Meninggalkan Schluchsee yang tenang airnya. Meninggalkan Neckar yang licin dan beku. Meninggalkan Triberg. Meninggalkan puncak Feldberg yang berselimut salju. Meninggalkan lembah Rhine yang sebentar lagi pasti berbunga…
Dan meninggalkan Schwarzwald, tentu saja. Schwarzwald yang hitam, tetapi putih. Schwarzwald yang menyimpan rahasia dan misteri dia dan aku. Schwarzwald yang menjadi saksi bisu rinduku yang tersesat.
Dan dia. Ya. Meninggalkan dia yang tak sempat kutahu, bahkan kusapa. Ah, betapa menyiksa peristiwa ini…
Aku berjalan limbung menuju utara Schwarzwald. Perlahan menyusuri perkebunan anggur tua dan desa-desa kecil yang sepi.
Sampailah di Deutsche Uhrenstraße, sebuah rute yang melingkar jejak sejarah horological. Terus dan terus berjalan, seperti tanpa tujuan. Aku telah gila. Aku merindukannya.
Alisha
Hari ini kuputuskan untuk meninggalkan tempat bangsat ini! Aku takkan mungkin bisa bertahan lama-lama di tempat yang ada dia. Hanya semakin menyiksaku saja… Dan aku takkan sanggup menyakitinya.
Heidi
Dan aku mulai menaiki gerbong tiga.
Aish..! Kaukah itu? Berdiri di ambang pintu kereta yang setengah terbuka. Kaukah itu? Yang memandang keluar jendela dengan sekerat mawar putih dalam genggaman. Bulan tersesat; mengikuti arus geladak besi.
Hah! Berisik! Jenuh menyerap suara guruh. Seharusnya kubungkam saja mulut mereka!
Kutajamkan pandanganku. Tak sabar, setengah berlari aku menghampirinya. Semoga dia tidak lari, seperti waktu itu.
Alisha
Bangsat! Dia lagi. Kenapa dia terus mengikutiku?! Sial.
Aku mencoba menghindar, tapi terlambat. Dia telah berdiri di sebelahku, dengan sisa nafas terengah-engahnya.
Aku menunduk ketika kucium aroma tubuhnya. Tak berani aku menatap matanya.
“Nona?” sapanya. Hatiku bagai disayat-sayat pedang mendengar suaranya. Ini pertama kalinya… Dan aku berharap aku takkan pernah mendengar apapun darinya! Tidak!
Tapi kini… Dia telah berdiri di sampingku. Matanya yang tajam dan coklat menatapku dibawah lengkung alisnya yang tebal. Bibirnya yang merah dan menawan menggumamkan sesuatu. Wajahnya putih. Schal coklat muda melingkar di lehernya. Dia sekitar duapuluh sentimeter lebih tinggi daripada aku. Tangan kanannya berpegang pada pintu kereta. Sementara itu tangan kirinya membenarkan letak mantelnya.
Apa aku tadi memandanginya? Sehingga bisa sedetail itu mengenali wajahnya?! Sial!
Heidi
Dia tampak gugup. Begitupun aku.
Rambutnya masih dikepang dua. Poninya hampir menutupi matanya yang biru dan jernih. Dikenakannya tudung mantelnya; mengabaikanku.
Diremasnya mawar putih dan kotak suara favoritnya. Pecah. Aku tak mengerti apa maksudnya.
Alisha
Degup jantungku tak menentu. Dengan cepat aku melompat keluar melalui pintu kereta api. Melesat begitu saja.
Heidi
Dasar gila! Apa yang dilakukannya?! Aku ikuti dia. Aku melakukan hal yang sama. Hup! Melompat, tanpa menghiraukan jeritan para penumpang yang ketakutan.
Ah! Keningku membentur bongkahan es. Tubuhku terseret jauh, berhenti pada satu gang yang sepi. Sekali lagi, kepalaku membentur pagar besi tua yang sudah mengelupas catnya.
Alisha
Dasar gila! Apa yang dilakukannya?! Ah! Aku tak peduli! Aku hanya harus lari dan kabur saja! Agar tidak semakin parah.
Heidi
“Nona, tunggu!” teriakku parau, sambil memegangi keningku yang berdarah. Aku berjalan tersaruk-saruk kesakitan, mengejarnya. Takkan kubiarkan dia lari lagi dariku. Tidak.
Dia menghilang di ujung jalan. Berlari masuk ke hutan. Aku terus mengejarnya.
Alisha
Derap kakiku terhenti. Seketika. Aroma ini…
Heidi
“Tunggu!” aku meraih lengannya, membalik tubuhnya. Matanya kini berubah merah berkilat-kilat.
“Seharusnya kau tak pernah mengikutiku…” ujarnya lirih, penuh penyesalan. Dia meringis.
Alisha
“Maafkan aku…”
Heidi
Aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Yang terakhir kulihat, dia meraih leherku, dan setelahnya, semua berubah menjadi gelap.
Cerpen oleh: Fee Al-Lail
Cerpen oleh: Fee Al-Lail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar