(Dienstag,17. Mai 2011, um 18:57 Uhr)
Gelap.
Dan kabut masih menanti di ujung pintu.
Aku jamah, tetap diam.
Aku rengkuh, tetapi masih saja sunyi.
Ah! Ada apa?
Yang kutahu, aku masih berdiskusi dengan malam yang hitam.
Kutanyakan tentang apa yang kutahu, tapi aku pernah tak tahu.
Apa yang kutahu?
Tentang sayap yang terbang lelah, membawa sang petualang langit menjalani takdirnya.
Indah, bukan?
Apa yang kutahu?
Tentang akar bunga yang berdarah-darah, menembus memecah batu-batu kecil yang tajam...
Hanya agar bunga itu cantik, tersenyum, bahagia menjalani musim seminya.
Indah, bukan?
Apa yang kutahu?
Tentang api yang membakar dirinya sendiri, hanya agar terang cahaya itu.
Karena api tahu, yang diinginkan cahaya hanyalah cerahnya menerangi yang gelap.
Indah, bukan?
Apa lagi yang kutahu?
Tentang pasir yang melebur dibawah kaki kita.
Juga tentang burung –burung camar yang berlomba dengan bayang batang pohon itu.
Kita berlari mengejar, dan ombak mencium kaki kita.
Tenggelam, namun tetap berpengangan tangan.
Indah, bukan?
Apa lagi yang masih kutahu?
Tentang kita?
Tentang kamu dan aku?
Tentang lagumu yang tak meninggalkanku.
Tentang puisimu yang menangis di mataku.
Tentang rindumu yang sempat tersesat di akar bunga itu.
Indah, bukan?
Malam kembali hening.
Setenang rinduku menangkapmu.
Setenang air mataku mengalir untukmu.
Setenang sayap-sayapku merintih dalam pedih.
Setenang dirimu yang tak melihat luka itu.
Indah, bukan?
Puisi berantai oleh: Mohammed El-Charist dan Fee Al-Lail
Puisi berantai oleh: Mohammed El-Charist dan Fee Al-Lail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar