Ketika angin berceloteh dengan hujan, rumput dan ilalang begetar mendengarkan.
Seharusnya kuabaikan mereka.
Jam berdetak, lonceng berdentang menyerukan rinduku yang tersesat di kamarmu.
Pohon-pohon pinus saling berbisik, diikuti tawa daun-daunnya yang merejam tanah.
Seharusnya kubungkam saja mulut mereka.
Ayunan bambu di pekarangan karet menendang-nendang kerikil basah yang dibawa angin.
Terpelanting jauh; membentur tembok rumah yang kusam pucat tua.
Seharusnya kuhancurkan saja dia.
Biji-biji udara menampar sajak-sajakku, meremas-remas setiap kata yang terpoles disana.
Sudah!
Bakar saja semuanya!
Agar puas kalian menghancurkanku, dan tertawa.
Seharusnya ku kubur saja, kupendam di lumpur pinggir ladang itu...
Puisi oleh: Fee Al-Lail
Tidak ada komentar:
Posting Komentar