Jumat, 03 Juni 2011

Pergi Bersama Angin

Bagai melukis diatas air..
Padahal aku membawa kanvas itu jauh, sejauh air laut itu mencium kakiku.
Aku bodoh, bodoh!!!
Cat-cat itu akan menebar dan mencemarkan keindahan yang sudah Tuhan ciptakan.
Tidak, aku tidak bodoh.
Cat itu adalah cat minyak,
Bukanlah cat air. Jadi tak mungkin ia bersatu padu padanya..
Dan kanvasku akan tetap indah dimataku, seperti yang pernah kutatap di bola matamu..

Sketsa itu semakin kabur.
Pensil-pensilnya pun mulai patah ujungnya.
Kamar ini sepi.
Ah! Kemana lonceng yang dulu selalu bernyanyi itu?
Hilang?
Aku berharap telinga ku lah yang tuli.
Aku tak tahu apa arti semua ini...
Terlalu jauh bagi gesture hatiku untuk menjangkaunya.
Yang aku tahu, lonceng itu masih berbunyi...
Disini.

Namun, kamus dan buku-buku tentang Jerman yang kusimpan itu semakin kusam.
Padahal, aku tak pernah membukanya.
Aku sengaja simpan terpisah, berharap tiada yang memegangnya..
Tapi aku menyesal!
Si pemakan kayu itu ikut memakan lembar demi lembar buku-buku ku yang terkumpul.
Entah... Akankah catatan-catatan tentangmu masih utuh didalamnya?
Aku tak tahu...
Berharap monster kecil itu,
Menyisakan sedikit bagiku.

Dan empatpuluhsembilan lembarku tentang Mesir dan menaranya...
Mulai berlarian kesana-kemari, berusaha terbang dengan sayap-sayap patahnya yang terluka.
Memaksakan diri untuk pergi.
Tidak bisa...
Sekuat apapun usahanya untuk melenyapkan diri,
Semua tentang kisah yang menceritakanmu di negeri seribu menara itu akan tetap melekat.
Disini.

Tapi disini, coba sedikit engkau tengok foto-foto yang kusimpan.
Kuda-kuda perkasa diatas Brandenburg itu mulai berlarian.
Aku tak tahu siapa yang memimpinnya.
Padahal aku tahu Hitler sudah mati di penggalanku dan sajak-sajakku.
Kuda dan sang pelecut itu berlari meninggalkan Berlin.
Kemana lagi, kalau bukan ke Paris? Pasti mereka ingin menghancurkan Eiffel yang telah menjadi simbol persatuan kita.
Ya, simbol bagai Adam dan Hawa di Jabal Rahmah!!!
Potret Brandenburg dan Eiffel itu berserakan.
Disini.

Menghampiriku, kuda putih yang membawa quadriga itu menyerangku.
Oh, tidak. Dia tidak menyerang, melainkan membawaku terbang bersamanya.
Menuju ke timur tengah...
Aku dibawanya hinggap di pucuk-pucuk menara yang menjulang kokoh.
Terlalu tinggi....
Hingga kemudian dijatuhkannya aku... Sakit, tentu saja.
Tapi takkan aku berhenti mencari, meski Gotthard Langhans 'kan menyembunyikanmu di balik gerbang Acropolis sekalian.
Karena kau akan selalu kubelai.
Disini.


Puisi oleh: Fee Al-Lail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar