Jumat, 03 Juni 2011

Pagi Ini

Pagi ini matahari enggan melirikkan matanya, entah kenapa...
Hanya burung-burung saja yang masih bijak, mereka tetap bernyanyi satu sama lain.
Di bilik dapur, dendang melayu terus menggema dari sebuah kotak suara.
Kerikil depan rumah yang basah itu menari-nari mengikuti lantunannya.

Pagi ini gerimis merincik lembut di genting rumahku. Percikannya mengelus jendela kaca yang buram. Mendesis sang angin, mengitari bayang-bayang pohon yang melambai-lambai. Ilalang yang berembun mengerjap-ngerjap heran menyaksikan kita yang saling diam.

Pagi ini...
Terasa terasingkan, daun-daun kelapa mendayu semaunya. Padahal angin telah memaksa bermain; namun itulah hakikatnya.
Air laut di ujung bibir itu pun berombak lembut, seakan ada yang menyihirnya, aku tak tahu akan ada rahasia apa, di pagi ini...

Dan jalanan yang basah seakan menertawakan kita yang sedari tadi tadi duduk dan diam saja...
Aroma tanah menyerangku, ilusi membungkam rasa asing ini. Air sungai di ujung gang gemericik, mendendangkan permainan tak berarah ini. Apa lagi yang belum basah...?
Bahkan hati ini pun meneteskan air mata...


Puisi oleh: Fee Al-Lail
Saat gerimis pagi, ketika duduk di daun jendela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar