Ini bukan puisi.
Hanya seteguk darah hitam yang mengandung bisa dan racun,
Yang akan bisa mematikan saraf-saraf di tubuhmu hanya dalam hitungan detik.
Ini bukan puisi.
Ini bukan puisi.
Hanya sepotong daging berlumur cairan merah segar, dengan sayatan-sayatan yang dalam,
Tercabik-cabik dan mendesis kesakitan.
Ini bukan puisi.
Hanya sekelumit nafas satu-satu,
Yang akan terlepas dari hidupnya.
Ini bukan puisi.
Hanya serpihan hati yang telah hilang dari sekawanan puzzle-nya yang tak bernyawa.
Ini bukan puisi.
Hanya segelintir kenangan yang berputar-putar kencang, membuat perutku mual dan kepalaku kehilangan akal sehatnya.
Ini bukan puisi.
Hanya sekotak angan yang saling berkejaran dan berupaya saling membunuh!
Ini bukan puisi,
Hanya sepenggal kata, yang terbakar menjadi abu, tergilas menjadi debu dan tergiling paksa serupa adonan roti yang tidak manis.
Ini bukan puisi.
Hanya angin beku yang berhembus dari laut, berhembus selembut besi berkarat, melewati atas pasir-pasir yang menorehkan dua nama.
Ini bukan puisi.
Hanya udara yang menggumpal di sekelilingku, mengkristal dan membuatku sulit bernafas.
Ini bukan puisi.
Hanya bebatuan yang menggores lukisan-lukisan yang menangis di ulu hatiku, luka menganga yang masih segar tentu saja meninggalkan sakit tak terperi.
Ini bukan puisi.
Hanya kembang api yang tak sepenuhnya menghasilkan percikan yang membakar kerinduan.
Ini bukan puisi.
Kenangan ini bukan puisi.
Rindu ini bukan puisi.
Udara, laut, batu, lukisan…
Semuanya bukan puisi.
Karena hanya kaulah
Puisiku.
Puisi oleh: Fee Al-Lail
Di sebuah kamar bernuansa krem, suatu malam, 28 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar