Pyaarr! Gelas berisi Cappuccino Mousse yang dipenuhi beberapa balok es batu itu terlepas dari tanganku, pecah berceceran di lantai keramik halaman rumah baruku. Sial! Padahal aku belum mencicipinya. Dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak dipenuhi amarah meluap-luap, kuhampiri penyebab jatuhnya minuman buatanku sendiri itu. Sebuah bola basket yang sudah kusam tampak dengan santainya bergerak-gerak di dalam sebuah pot bunga lavender yang baru saja bersemi dua hari yang lalu. Sial. Bungaku ikut berantakan dan bahkan potnya sedikit retak!
Aku segera keluar dari pagar besi halaman rumah sambil menenteng bola basket keparat itu. Mencari-cari kira-kira siapa pemiliknya. Kutoleh ke kanan dan ke kiri, tetap tak kulihat satu orang pun di sekitar sini. Apa ini bola setan? Pasti pelakunya masih berada di sekitar sini.
Setelah yakin dan pasrah karena tak juga menemukan pelakunya, kuputuskan untuk kembali ke rumah. Percuma mencari-cari seseorang yang pasti sudah kabur dari tadi. Saat berbalik, tubuhku hampir saja menabrak seseorang. Tubuhnya tinggi, kira-kira dua puluh sentimeter lebih tinggi dariku. Wajahnya pucat dengan rahang yang mengeras dan gigi yang gemeretak menahan emosi. Matanya yang hitam legam menatapku tajam, membuatku merinding seketika. Aku susah payah menelan ludah. Dengan kasar, direbutnya bola basket yang ada di tanganku yang gemetar. Setelah itu, dia berlalu begitu saja. Bahkan dia tidak meminta maaf! Dasar cowok tidak tahu diri!