Sabtu, 03 Desember 2011

He'd Never Stop!


Pyaarr! Gelas berisi Cappuccino Mousse yang dipenuhi beberapa balok es batu itu terlepas dari tanganku, pecah berceceran di lantai keramik halaman rumah baruku. Sial! Padahal aku belum mencicipinya. Dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak dipenuhi amarah meluap-luap, kuhampiri penyebab jatuhnya minuman buatanku sendiri itu. Sebuah bola basket yang sudah kusam tampak dengan santainya bergerak-gerak di dalam sebuah pot bunga lavender yang baru saja bersemi dua hari yang lalu. Sial. Bungaku ikut berantakan dan bahkan potnya sedikit retak!

 Aku segera keluar dari pagar besi halaman rumah sambil menenteng bola basket keparat itu. Mencari-cari kira-kira siapa pemiliknya. Kutoleh ke kanan dan ke kiri, tetap tak kulihat satu orang pun di sekitar sini. Apa ini bola setan? Pasti pelakunya masih berada di sekitar sini.

Setelah yakin dan pasrah karena tak juga menemukan pelakunya, kuputuskan untuk kembali ke rumah. Percuma mencari-cari seseorang yang pasti sudah kabur dari tadi. Saat berbalik, tubuhku hampir saja menabrak seseorang. Tubuhnya tinggi, kira-kira dua puluh sentimeter lebih tinggi dariku. Wajahnya pucat dengan rahang yang mengeras dan gigi yang gemeretak menahan emosi. Matanya yang hitam legam menatapku tajam, membuatku merinding seketika. Aku susah payah menelan ludah. Dengan kasar, direbutnya bola basket yang ada di tanganku yang gemetar. Setelah itu, dia berlalu begitu saja. Bahkan dia tidak meminta maaf! Dasar cowok tidak tahu diri!

Rabu, 12 Oktober 2011

Tentang Kekasihku

Mungkin kalian pernah mendengar tentang julukan kota paling romantis di dunia yang disandang oleh kota Venezia. Atau mungkin kalian pernah mendengar alasan, apa yang membuat orang-orang begitu antusias ingin mempelajari bahasa Perancis? Sebagian besar orang memberikan alasan yang serupa: because it’s so romantic. Bagaimana dengan kalian? :)

Minggu, 11 September 2011

On A Wagon


On a wagon where you would come and leave, there was a mournful eye of mine.
I stood still, my eyes were crystallized. Wishing I would never hear your 'goodbye'.
On a wagon, I still remembered your hugs. Your perfume. And our wet mournful eyes.
I wanted to fly off with you! Running away.  Bringing these moments up to the sky.

Sabtu, 10 September 2011

Catatan dalam Sepotong Roti

Aku berjalan sendirian.  Kuseret-seret kaki kananku sehingga jalanku terseok-seok. Di bawah sebatang pohon, aku berhenti. Duduk di bangku kayu seorang diri. Kupandangi sandalku yang lepas talinya. Sial! Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Kulirik tas kecil di pangkuanku. Talinya lepas juga. Hash...! Sementara itu, uang di dompetku lenyap. Sepertinya tertinggal di rumah, karena aku juga lupa membawa tissue yang kuletakkan di atas uangku tadi di meja kecil kamarku.

Sabtu, 04 Juni 2011

I Love the Way She Is

Aku suka caranya tersenyum.
Tulus. Dan apa adanya. Dia selalu tersenyum ketika aku mengucapkan “aku kangen...” atau “aku sayang kamu...” padanya.
Dia juga selalu tersenyum ketika menyaksikan aku sedang bermain gitar sambil menyanyi. Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa aku tahu dia selalu tersenyum ketika melihatku bermain basket.

Hari itu 3 Desember 2008...

Saat itu kelas dua SMA.
Aku belajar di pondok salaf dekat sekolah. Pondoknya sangat ketat. Hari itu 3 Desember, ulang tahunnya. Aku selalu ingin menangis setiap bercerita ini... :’(
Aku sangat mencintainya.

Baiklah. Ketika itu 3 Desember 2008, bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah. Aku berusaha mencari cara agar bisa keluar pondok. Dengan uang tinggal 70rb, aku membeli boneka sapi dengan harga 65rb atau 56rb, aku lupa. Aku tidak pernah peduli mahal atau murah. Aku memilih boneka itu karena aku yakin dia akan suka.

Jumat, 03 Juni 2011

Sebuah Dialog: Jika Dia Maka Aku

I  : Jika dia Ainun maka aku adalah Habibie nya.
II : Jika dia Rama, maka aku adalah Sinta nya.

I  : Jika dia Laila, maka aku adalah majnun nya.
II : Jika dia Romeo, maka aku adalah Juliet nya.

I  : Jika dia Heloise, maka aku adalah Peter Abelard nya.
II : Jika dia Michaelangelo, maka aku adalah masa Renaissance nya.

Seharusnya Kubungkam Saja Mulut Mereka!

Ketika angin berceloteh dengan hujan, rumput dan ilalang begetar mendengarkan.
Seharusnya kuabaikan mereka.

Jam berdetak, lonceng berdentang menyerukan rinduku yang tersesat di kamarmu.
Seharusnya tak kudengar mereka.

Dialog Sepasang Mata

Mata; berdialog.
Dekap; bersahutan.
Menerjemahkan bola mata, mengerjap aku dalam rindumu.
Jemput kepak sayapku di pucuk menara itu.
Kini; sendiri lagi.
Sepi.

Dibawah bulan...

Kaukah Itu?

Dan aku mulai menaiki gerbong tiga.
Ah! Kaukah itu? Berdiri di ambang pintu kereta yang setengah terbuka.
Kaukah itu? Yang tersenyum dan menyapaku dengan sekerat mawar putih.
Bulan tersesat; mengikuti arus geladak besi.
Hah! Berisik!

Kupikir Aku

Aku sendirian saja.
Diatas jembatan yang terlelap dibawah hujan.

Aku sendirian saja.
Menengadah, menyambut kilat yang memotret secuil senja yang basah.

Aku sendirian saja.
Dan kabut semakin menyamarkan bayang-bayang pohon, dan kota-kota menjadi buram.
Sungai menjadi hilang.

Tanpa Judul

Pelangi meloncat, singgah di matamu.
Sebias warna biru, tercengang aku dalam liukmu.
Senja berlalu, merah bersemu.
Mencuat warna-warna lain pada kanvasmu.
Ah, usang!

Rumput dan Tebing

(Sabtu, 9 April 2011, 20:13)

Dua gadis.
Tebing curam.
Terjal.

Gadis 1; mata merah, rambut tergerai acak-acakan, kaki telanjang, menangis, isaknya menggema di hutan puncak gunung itu.

Gadis 2; duduk bertopang dagu diatas sebuah batu besar, menyesali keadaan gadis 1.

Ternyata gerimis. Lagi.
Derit pinus bersahutan. Mata air merincik angkuh. Batu-batu kali saling berorasi tentang rahasia hujan. Alam merekam percakapan mereka.
Di sela-sela itu...

Gadis 1 : "Menurutmu, apakah tebing curam ini?"
Gadis 2 : "Kesabaran." 
Gadis 1 : (tertawa pesimis) "Hidup tak memerlukan kesabaran! Menurutku, tebing curam ini ada untuk aku melompatinya."
Gadis 2 : (tersenyum kecut) "Paralayang?" 

Sajak Sakit Jiwa

Basah.
Pagi ini tampak merah. Mungkin mataku...
Burung-burung hantu meraung marah, gesture musim dingin bulan Desember membekukan kata-kataku. Tersesat padamu.

Di ranting-ranting itu daun berterbangan seumpama kupu-kupu yang terlahir.
Mesra..
Coklat kehitaman menampakkan seputik kematian.
Aku masih terbisu membeku. Dan masih tersesat padamu.

Pergi Bersama Angin

Bagai melukis diatas air..
Padahal aku membawa kanvas itu jauh, sejauh air laut itu mencium kakiku.
Aku bodoh, bodoh!!!
Cat-cat itu akan menebar dan mencemarkan keindahan yang sudah Tuhan ciptakan.
Tidak, aku tidak bodoh.
Cat itu adalah cat minyak,
Bukanlah cat air. Jadi tak mungkin ia bersatu padu padanya..

Pagi Ini

Pagi ini matahari enggan melirikkan matanya, entah kenapa...
Hanya burung-burung saja yang masih bijak, mereka tetap bernyanyi satu sama lain.
Di bilik dapur, dendang melayu terus menggema dari sebuah kotak suara.
Kerikil depan rumah yang basah itu menari-nari mengikuti lantunannya.

Ini Bukan Puisi

Ini bukan puisi.
Hanya seteguk darah hitam yang mengandung bisa dan racun,
Yang akan bisa mematikan saraf-saraf di tubuhmu hanya dalam hitungan detik.

Ini bukan puisi.
Hanya seonggok tulang –tanpa daging– yang merapuh dan penuh serangga pengganggu.

Rindu

Dalam diam,
ketika kereta terakhir berlalu
aku masih berpijak di sisi rel
yang berkarat.

Terpaku,
menatap kosong menembus biji-biji udara
yang beku.
Dinginnya pagi ini,

Kesunyian Manisku

Kulihat makhluk itu menggeliat.
Menyadari kedatanganku, terbangun dia. Menjilat-jilat bibirnya sendiri. Seperti singa liar bertemu kancil. Air liurnya menetes-netes. Aku: muka masam; senyum kecut yang kupaksakan; langkah berat; menoleh; berpaling muka dengan enggan. Oh, dasar sial! Dia menarikku dengan cengkeraman tangannya yang liar! Jemarinya yang berkuku tajam dan panjang mencabik-cabik isi perutku. Meremas-remas ususku. Merobek-robek kesunyian manisku. Mencungkil sekeping kesendirian indahku. Mencakar hatiku hingga berdarah-darah. Terakhir, merampas kebebasan tebaikku.

Kau Aku Mencari

Kucari kau di lorong-lorong kota yang basah.
Di pucuk-pucuk ranting yang gugur.
Pada kesepian yang mengelupas.

Aku lelah. Menyerah.


Puisi oleh: Fee Al-Lail

My Tears


The moon melted in your eyes.
Its shadow scattered in the palm of your hand.
I trempled it on, but was still shinin’.
I catched it, but was runnin’.

My tear was dryin’.


Puisi oleh: Fee Al-Lail

An Evening Without You



It was an evening without you
And the rain poured down the earth
I embraced each moment of it
But my finger felt like freeze
And my eyes couldn't see through its drop

It was an evening without you
When I heard you sang me a rainy song
And I began to smile again
But then it was gone
While I realized that it was all just an illusion of me
I was woke up in tears again

It Comes to an End

Akhirnya...
Hari ini datang.
Membawa sayu-sayu tangisan udara.

Akhirnya...
Hari ini datang.
Bersama kehancuran hati yang telah terpikirkan.

Kau Tahu?

Kau tahu?
Kilauan embun bersinar cerah.
Risau anganku tak tertembus biasnya.

Kau tahu?
Begitu tenang dan hening sepertiga malam..
Tak hentikan kacaunya jiwaku.

Senyum langit pun tak berikanku sedikit saja pelipur lara.

Luka Mata

Mataku...
Keduanya sulit terpejam.
Padahal tubuh dan hatiku telah lelah sekali...
Rupanya aliran air dari telaga yang hitam mengganjalnya.
Mengapa mataku?

NEIN...!!!


Teater "Nein" (auf Deutsch)


Renata ,,Tochter’’ (R)                           : Rizky Adhyka
Mutti (M)                                              : Mentari Ayu Diana Putri
Dukun (D)  + ,,Cemong" die Hexe (H)   : Dwi Rosita Noor Octaviani
Verrueckte Frau (F) + die Aerztin (A)    : Nuzulul Laily

           
Renata muncul dengan menari-nari mengikuti lagu sampai lagu habis.

R : Aww... SM*SH!!! Ich liebe euch. Ihr seid ja mein Idol, mein Leben! Bussii!

            Terdengar suara batuk-batuk, orang kesakitan.

S : Uhuk... Uhuk... Hilf mir! Oh, meine liebe Tochter, Rrrrenata... Uhuk uhuk...
 R : Oh, wer ist sie? Die Stimme kliengt wie meine Mutters Stimme! Oh nein, was ist denn los Mutti, wart auf mich!! (keluar)

            Renata dan Mutti keluar, Mutti dibopong oleh Renata.

R : Mutti, was passiert? Bist du O.K?
M : (duduk) Mein Bauch... Oh mein Bauch...
R : Was passiert mit deinem Bauch, Mutti?
M : Mein Bauch... (terbata-bata) Tut weh....

Kereta Terakhir (Part 3)


"Kereta Terakhir yang Akan Membawamu Kembali Padaku"
Monday, February 21, 2011 at 4:12pm

Minggu, 20 Pebruari 2011
05.01
Titik embun masih melekat pada daun lavender didepan kamarku, ketika kau datang dan mengetuk-ngetuk kaca jendela; mengendap-endap.

Kereta Terakhir (Part 2)


"Aku Suka Caramu Mencintaiku"
Sunday, February 20, 2011 at 1:45pm

19.01
Bulan membentuk lingkaran sempurna. Bersyukur sekali bahwa kau masih bersamaku.
Berjalan santai sepanjang kampus; lampu-lampu malam tersenyum. Pun matamu… kulihat ada senyum disana.

Kereta Terakhir (Part 1)


"Aku Ingin Mencintaimu di Sepanjang Hidupku"
Sunday, February 20, 2011 at 1:03pm

Sudah setengah jam lebih aku duduk gelisah seperti ini. Aku mulai berkeringat. Wajahku tak lagi cerah, bahkan nyaris kusut. 15.39. Hufh. Harus berapa lama lagi?

Aku Datang dan Pergi

Bersama hujan yang damai
sore itu aku datang mempersembahkan aku untukmu
seutuhnya dengan apa yang aku punya
sederhana aku hadir mengejutkan raut dalam hatimu.

Kamis, 02 Juni 2011

Kenangan Bunga Rumput (Part 2)



Bunga rumput itu bergoyang.
Bersemu merah; menggiurkan!
Kucabut saja, lalu kutelangkupkan pada hatinya.
Kucabut saja, kumiliki sendiri.

Kenangan Bunga Rumput (Part 1)



(Mittwoch, den 11. Mai 2011, um 20:51 Uhr)


Di dinding itu:
Deutschelandkarte. Kumpulan tempelan Wortschatz. Dua lukisan. Satu kolase. Kertas usang yang telah robek di ujung kirinya, bertuliskan puisi darinya yang berjudul “Wegen Dir”.

Di meja itu:
Pigura berisi foto kami. Dua kamus Deutsch. CD Studio D A2. Satu Al-Qur’an. Satu Twilight. Satu New Moon. Satu Eclipse. Satu Breaking Dawn. Satu Goosebumps.

Sepulang dari Toko Buku


Tadi sepulang dari toko buku, aku melewati jalan kita.
Rumput itu masih bersemu merah, tertiup angin sore dengan sedikit derai gerimis.

Indah, bukan?


(Dienstag,17. Mai 2011, um 18:57 Uhr)

Gelap.
Dan kabut masih menanti di ujung pintu.
Aku jamah, tetap diam.
Aku rengkuh, tetapi masih saja sunyi.
Ah! Ada apa?

Hujan yang Belum Deras


Iya, masih belum deras tetes-tetes tangisan langit ini.
Perlahan secara beruntun membentuk rantai-rantai air yang satu.
Tapi terpisah.

Aku Tidak Ingin



(Mittwoch, den 11. Mai 2011, um 20:41 Uhr)

Geram.
Tapi aku tidak ingin memecahkan gelas, ataupun membanting piring.
Aku tidak ingin menggebrak pintu ataupun meloncat keluar dari jendela.

Rabu, 01 Juni 2011

Aku dan Bulan


Bulan mendesis dibawah gerimis.
Petak-petaknya basah.
Kabut menggumpal, berkerumun dalam satu purnama.
Dan tetap basah,

Sebuah Perjalanan


'Brunch' hari ini:
Matahari menebarkan pesona dengan sombongnya, membakar surface bumi yang sudah tua dan pikun.
Aspal mulus yang berdebu.
Asap kendaraan yang hitam.
Selokan-selokan pinggir jalan yang keruh airnya.
Sebuah bus kota yang penuh sesak, dan disitulah saat ini aku berada. Duduk di samping laki-laki tua, kira-kira berumur delapan puluhan.

Cintaku di Schwarzwald (Part 2)


 
Heidi
Aku membuka mata, terjingkat kecil. Kereta penuh sesak. Tersadar, kuamati sekeliling. Depan. Pintu. Ah! Tak ada.
Apa yang tadi kulihat...
Benarkah...
Tapi...

Cintaku di Schwarzwald (Part 1)

Heidi
Schwarzwald, 05.12.
Winter hari kelima.

Kulihat lagi dia. Kali ini mengenakan jubah coklat dengan motif bulu-bulu putih. Berbaring diatas gumpalan salju yang dingin. Aku mengamatinya dari balik sebuah pohon berkulit abu-abu. Ini bukan pertama kali aku melihatnya. Musim dingin tahun lalu, aku menemukan hal yang sama. Hanya saja waktu itu dia berjubah putih. Hal yang dilakukannya pun tak berubah. Berbaring diatas serpihan salju.

Cinta Merah Jambu (Part 3)

9 Mei 2009
Malioboro, Sabtu malam.

*sedikit flashback

Ketika itu hari Sabtu, dan sekolahku mengadakan Study Tour ke Jogja. Aku tak ingat apapun. Yang kuingat hanya kamu dan aku. Ya. Ketika itu pukul tujuh malam.

Kita berjalan-jalan ditemani lampu-lampu malam yang orange. Juga gerimis lembut yang aku selalu rindukan.

Cinta Merah Jambu (Part 2)

Awal kelas dua SMA...
Sekarang aku tidak harus sembunyi-sembunyi lagi untuk menyaksikanmu bermain basket, atau bernyanyi sambil bermain gitar, atau melukis. Aku pun tidak harus berpura-pura meminjam buku di perpustakaan, atau berpura-pura meninggalkan buku catatanku di gazebo lagi.

Cinta Merah Jambu (Part 1)

Tiga tahun yang lalu...
Ketika itu hari Selasa. Gerimis memercik di kaca jendela auditorium lantai tiga ini. Hari itu pertama kali aku melihatmu. Kesan pertama adalah... Emm... Kamu terlihat cool dengan seragam abu-putihmu, dasi dan kacamatamu itu.
Kamu takkan pernah tahu, sejak itu aku sering memperhatikanmu. Bahkan ketika kamu sedang bercengkerama dengan teman-temanmu, atau ketika kamu diam-diam menyanyi sambil bermain gitar. Aku juga sering memperhatikanmu bermain basket lewat jendela kelasku yang tepat berada didepan lapangan basket. Aku suka permainanmu yang indah itu...

Minggu, 03 April 2011

Musim Dingin Bulan Desember


Kepingan salju masih putih, meremas-remas hari yang muram dan pucat. Di tepi Rhein yang licin, anggur-anggur hijau ranum menjadi beku. Serpihan dedaunan Linden menjadi bersemu putih. Awan terpotong-potong, menjatuhkan detak hatimu dan hatiku. Berdebum pada bebatuan putih; terjerembab.
Hati kita tersesat di derasnya Elbe. Detak jantung kita terperangkap bongkahan es di puncak angkuhnya Alpen. Lentera senja mulai mengerjap-ngerjapkan apinya, menerka-nerka; apakah kita?
Kesepian mengelupas di batang pepohonan Ek. Cericit burung telah tak ada, hanya angin meraung-raung membinasakan sunyi, merebak di seluruh Schwarzwald.
Aku menjadi dingin dan merinding.
Kau pun jadi menggigil.


Puisi oleh: Fee Al-Lail

Kamis, 24 Maret 2011

Kanvas yang Terluka



Aku bersembunyi dalam sekawanan tebal kabut putih yang mempermainkan penglihatanku. Aku begitu takut melihatmu… Tak pernah sebelumnya aku merasa begini.
Ketika sayup-sayup kudengar bisikan itu, saat itulah air mataku mengkristal, udara di sekelilingku menggumpal, menyumbat paru-paruku dan membuatku serasa sulit bernapas. Kebekuan menopang kerisauanku. Sungguh aku rindu suara itu… Suasana itu.